Lebih Mengenal Tentang Apa itu GDPR - Arlina Design
Dalam beberapa hari terakhir, puluhan email dari layanan internet membanjiri penggunanya. Mungkin kamu sudah menyadari rata-rata dari isi email tersebut membicarakan soal pembaharuan Kebijakan Privasi (Privacy Policy) terkait aturan baru GDPR. Namun, apa itu GDPR sebenarnya?

Lebih Mengenal Tentang Apa itu GDPR

GDPR (General Data Protection Regulation) adalah peraturan baru yang berlaku di Uni Eropa yang memperbaharui bagaimana sirkulasi data pengguna dalam perusahaan internet. Peraturan ini mulai efektif diberlakukan pada 25 Mei 2018 dalam rangka memproteksi data pengguna dan transparansi penggunaan data.

Perusahaan seperti Facebook, Google, Amazon hingga perusahaan kecil menulis ulang laman Kebijakan Privasi mereka untuk menyesuaikan peraturan baru GDPR di Uni Eropa.

Apa GDPR hanya berlaku untuk perusahaan Uni Eropa?


Saat ini Uni Eropa terdiri dari 28 negara yang tentu saja berada di benua Eropa. Lantas, apakah GDPR hanya berlaku di Benua Biru saja? Tentu saja tidak.

Menurut laporan dari CNET, GDPR berlaku secara internasional, tidak peduli dimana perusahaan tersebut bermarkas. GDPR harus ditaati oleh organisasi apapun yang mengumpulkan dan mengolah data dari warga Eropa. Peraturan ini sejatinya telah disahkan pada 2016 lalu, kemudian perusahaan diberi waktu hingga 2018 untuk menyesuaikan layannnya dengan aturan baru.

“Saya pikir GDPR secara umum akan memberikan langkah yang sangat positif untuk internet.” kata CEO Facebook, Mark Zuckerberg.

Bagaimana GDPR bagi penduduk di luar Uni Eropa?


Lebih Mengenal Tentang Apa itu GDPR

Sementara sebagai pengguna, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski diusulkan oleh Uni Eropa, peraturan ini diterapkan secara internasional, termasuk Indonesia. Sisi positifnya, kita mendapat level proteksi data yang sama dengan Eropa.

Sayangnya, bagi penduduk selain Uni Eropa, apabila merasa dirugikan semisal datanya bocor atau disalahgunakan, kamu tidak bisa menggugat perusahaan yang bersangkutan lewat aturan GDPR.

Sampai disini, kita hanya bisa berharap bahwa para raksasa IT tersebut bisa mengolah data pengguna dengan baik dan tidak menyebabkan masalah krusial di kemudian hari. Sebab hingga saat ini belum ada aturan lain yang sama ketatnya dengan GDPR.

Apa perbedaan GDPR dengan peraturan sebelumnya?


Secara umum, GDPR lebih ketat dari regulasi sebelumnya dan membuat pengguna lebih banyak dibombardir permintaan izin oleh layanan terkait akses data. Sisi positifnya, hal ini membuat pengguna bisa memisahkan mana informasi yang boleh diambil dan mana yang tidak.

Namun perubahan drastis ada pada aturan yang mengekang perusahaan internet tentang cara sirkulasi data dibalik layar yang tidak diketahui pengguna. Misalnya, perusahaan X yang menjual datanya kepada perusahaan Y dan Z untuk keperluan periklanan tertarget.

Saat kamu menggunakan Facebook, informasi seperti usia, gender, lokasi, dan topik favorit bisa menjadi ‘harta’ penting bagi perusahaan untuk memperkirakan iklan apa yang cocok untuk tampil di News Feed. Facebook bisa saja menjual data pengguna kepada perusahaan lain yang membutuhkannya.

Dengan GDPR, perusahaan yang membeli data harus secara terbuka menjelaskan alasan dan tujuan apa yang ingin dicapai dengan data tersebut. Ketentuan itu memastikan bahwa data pengguna tidak dieksploitasi untuk hal yang tidak sepatutnya, seperti kasus Cambridge Analytica yang menimpa raksasa media sosial Facebook awal tahun ini.

Bagaimana jika perusahaan melanggar GDPR?


Bagaimana jika perusahaan melanggar GDPR

Apabila terbukti layanannya melanggar GDPR, Uni Eropa akan mengenakan denda kepada perusahaan tersebut sebesar 4 persen dari total pendapatan global. Hal ini cukup menakutkan bagi perusahaan besar yang kita kenal. Sebagai contoh, 4 persen pendapatan dari situs belanja online Amazon adalah 7 miliar dollar atau hampir Rp 100 triliun.

Di hari pertama pemberlakuan GDPR saja, Facebook dan Google sudah dikenai denda dengan total 8,8 miliar dollar menurut laporan dari The Verge.

Denda lainnya yang membayang-bayangi perusahaan internet adalah jika mereka tidak meresponi akses data oleh pimpinan Uni Eropa. GDPR sendiri menuliskan bahwa perusahaan harus memberikan akses informasi yang diminta dalam 30 hari jika tidak ingin dikenakan denda.

Sedangkan jika data pengguna diretas oleh pihak luar, GDPR mengharuskan perusahaan untuk memberi tahu semua penggunanya dalam 72 jam bahwa ada kebocoran data.

Dimana saya dapat membaca seluruh peraturan GDPR?


Bagi kamu yang ingin mengetahui detil lebih lengkap soal GDPR, atau menjadi bagian dari perusahaan yang bergerak di internet, peraturan GDPR dapat dibaca lewat tautan ini. Dokumen tersebut berisi setidaknya 88 halaman yang terbagi 11 bagian dengan pembahasan yang berbeda. Kamu juga bisa membawa versi web di halaman resmi GDPR.

Peraturan ini tidak harus dimengerti oleh semua orang mengingat kompleksitas di dalamnya, serta ditujukan kepada perusahaan internet saja. Sementara pengguna boleh saja menghiraukannya dan tetap menggunakan layanan internet sehari-hari tanpa masalah.

Lebih Mengenal Tentang Apa itu GDPR

Dalam beberapa hari terakhir, puluhan email dari layanan internet membanjiri penggunanya. Mungkin kamu sudah menyadari rata-rata dari isi email tersebut membicarakan soal pembaharuan Kebijakan Privasi (Privacy Policy) terkait aturan baru GDPR. Namun, apa itu GDPR sebenarnya?

Lebih Mengenal Tentang Apa itu GDPR

GDPR (General Data Protection Regulation) adalah peraturan baru yang berlaku di Uni Eropa yang memperbaharui bagaimana sirkulasi data pengguna dalam perusahaan internet. Peraturan ini mulai efektif diberlakukan pada 25 Mei 2018 dalam rangka memproteksi data pengguna dan transparansi penggunaan data.

Perusahaan seperti Facebook, Google, Amazon hingga perusahaan kecil menulis ulang laman Kebijakan Privasi mereka untuk menyesuaikan peraturan baru GDPR di Uni Eropa.

Apa GDPR hanya berlaku untuk perusahaan Uni Eropa?


Saat ini Uni Eropa terdiri dari 28 negara yang tentu saja berada di benua Eropa. Lantas, apakah GDPR hanya berlaku di Benua Biru saja? Tentu saja tidak.

Menurut laporan dari CNET, GDPR berlaku secara internasional, tidak peduli dimana perusahaan tersebut bermarkas. GDPR harus ditaati oleh organisasi apapun yang mengumpulkan dan mengolah data dari warga Eropa. Peraturan ini sejatinya telah disahkan pada 2016 lalu, kemudian perusahaan diberi waktu hingga 2018 untuk menyesuaikan layannnya dengan aturan baru.

“Saya pikir GDPR secara umum akan memberikan langkah yang sangat positif untuk internet.” kata CEO Facebook, Mark Zuckerberg.

Bagaimana GDPR bagi penduduk di luar Uni Eropa?


Lebih Mengenal Tentang Apa itu GDPR

Sementara sebagai pengguna, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski diusulkan oleh Uni Eropa, peraturan ini diterapkan secara internasional, termasuk Indonesia. Sisi positifnya, kita mendapat level proteksi data yang sama dengan Eropa.

Sayangnya, bagi penduduk selain Uni Eropa, apabila merasa dirugikan semisal datanya bocor atau disalahgunakan, kamu tidak bisa menggugat perusahaan yang bersangkutan lewat aturan GDPR.

Sampai disini, kita hanya bisa berharap bahwa para raksasa IT tersebut bisa mengolah data pengguna dengan baik dan tidak menyebabkan masalah krusial di kemudian hari. Sebab hingga saat ini belum ada aturan lain yang sama ketatnya dengan GDPR.

Apa perbedaan GDPR dengan peraturan sebelumnya?


Secara umum, GDPR lebih ketat dari regulasi sebelumnya dan membuat pengguna lebih banyak dibombardir permintaan izin oleh layanan terkait akses data. Sisi positifnya, hal ini membuat pengguna bisa memisahkan mana informasi yang boleh diambil dan mana yang tidak.

Namun perubahan drastis ada pada aturan yang mengekang perusahaan internet tentang cara sirkulasi data dibalik layar yang tidak diketahui pengguna. Misalnya, perusahaan X yang menjual datanya kepada perusahaan Y dan Z untuk keperluan periklanan tertarget.

Saat kamu menggunakan Facebook, informasi seperti usia, gender, lokasi, dan topik favorit bisa menjadi ‘harta’ penting bagi perusahaan untuk memperkirakan iklan apa yang cocok untuk tampil di News Feed. Facebook bisa saja menjual data pengguna kepada perusahaan lain yang membutuhkannya.

Dengan GDPR, perusahaan yang membeli data harus secara terbuka menjelaskan alasan dan tujuan apa yang ingin dicapai dengan data tersebut. Ketentuan itu memastikan bahwa data pengguna tidak dieksploitasi untuk hal yang tidak sepatutnya, seperti kasus Cambridge Analytica yang menimpa raksasa media sosial Facebook awal tahun ini.

Bagaimana jika perusahaan melanggar GDPR?


Bagaimana jika perusahaan melanggar GDPR

Apabila terbukti layanannya melanggar GDPR, Uni Eropa akan mengenakan denda kepada perusahaan tersebut sebesar 4 persen dari total pendapatan global. Hal ini cukup menakutkan bagi perusahaan besar yang kita kenal. Sebagai contoh, 4 persen pendapatan dari situs belanja online Amazon adalah 7 miliar dollar atau hampir Rp 100 triliun.

Di hari pertama pemberlakuan GDPR saja, Facebook dan Google sudah dikenai denda dengan total 8,8 miliar dollar menurut laporan dari The Verge.

Denda lainnya yang membayang-bayangi perusahaan internet adalah jika mereka tidak meresponi akses data oleh pimpinan Uni Eropa. GDPR sendiri menuliskan bahwa perusahaan harus memberikan akses informasi yang diminta dalam 30 hari jika tidak ingin dikenakan denda.

Sedangkan jika data pengguna diretas oleh pihak luar, GDPR mengharuskan perusahaan untuk memberi tahu semua penggunanya dalam 72 jam bahwa ada kebocoran data.

Dimana saya dapat membaca seluruh peraturan GDPR?


Bagi kamu yang ingin mengetahui detil lebih lengkap soal GDPR, atau menjadi bagian dari perusahaan yang bergerak di internet, peraturan GDPR dapat dibaca lewat tautan ini. Dokumen tersebut berisi setidaknya 88 halaman yang terbagi 11 bagian dengan pembahasan yang berbeda. Kamu juga bisa membawa versi web di halaman resmi GDPR.

Peraturan ini tidak harus dimengerti oleh semua orang mengingat kompleksitas di dalamnya, serta ditujukan kepada perusahaan internet saja. Sementara pengguna boleh saja menghiraukannya dan tetap menggunakan layanan internet sehari-hari tanpa masalah.

Related Post

Disqus Codes
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>
  • To write a underline letter please use <u></u>
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parser Box

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo